Bayi dan Balita Juga Bisa Kena Eksim, Lho!


Gangguan kulit yang satu ini paling sering menyerang bayi dan balita. Apa dan bagaimana mencegah eksim pada anak?

Kulit bayi dan balita pun butuh perawatan agar terhindar dari gangguan kulit. Kulit
bayi yang lapisannya masih tipis dan ikatan antar-selnya masih lemah, lebih mudah terkena iritasi dan infeksi. Gangguan kulit yang sering mendera bayi dan balita biasanya eksim. “Antara lain, eksim popok (dermatitis popok) dan eksim susu (dermatitisatopik),” ungkap dr. Titi Lestari Sugito, Sp.KK(K) dari bagian Kulit dan Kelamin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. “Agar tidak menjadi berkepanjangan, orang tua sebaiknya mengenali eksim lebih dini agar bisa dicegah,” lanjutnya.

Eksim atau dermatitis berarti peradangan pada lapisan kulit. Baik di lapisan epidermis maupun dermis. Seperti diketahui, kulit terdiri dari tiga lapisan, lapisan jangat (epidermis), dermis, dan jaringan subkutis. Epidermis sebagai lapisan paling atas terbentuk pada usia kehamilan 5-6 minggu. “Setidaknya, sekitar 28 hari sekali kulit akan berganti dengan kulit baru. Selain itu, terdapat sel pigmen yang melindungi tubuh dari efek sinar matahari,” ujar Titi.

Lapisan dermis terdiri dari serabut penunjang seperti kolagen dan elastin, saraf dan pembuluh darah. Terdapat juga apokrin dan keringat. Sedangkan lapisan terdalam, lapisan subkutis terdiri atas jaringan lemak.

Tanda-tanda eksim, antara lain, kulit kemerah-merahan, kulit kering, basah, atau tebal dan bersisik. “Tergantung penyebabnya, apakah sudah lama atau berulang-ulang.” Biasanya eksim baru warnanya agaklebih merah, agak basah, disertai bengkak. Sementara pada yang kronis atau sudah lama, lebih tebal, bersisik, kering, dan warnanya agak kehitaman. Ada beberapa eksim yang sering diderita bayi dan balita, yaitu eksim popok dan susu (demartitis atopik).

1. EKSIM POPOK
Pemakaian popok pada bayi dan balita merupakan cara paling praktis, efektif, dan higienis untuk menampung tinja dan air seni si kecil agar tidak menyebar saat buang air. Sayangnya, kulit bayi dan balita tidak siap kontak lama dengan urin dan tinja karena masih tipis. Kulit yang lembap (popok menutup kulit) juga cenderung lebih rentan terhadap gesekan sehingga mudah mengalami iritasi, selain memudahkan pertumbuhan kuman dan jamur. Pemilihan popok yang baik dan cara pemakaian dan perawatan kulit di daerah popok mutlak dilakukan.

Eksim popok merupakan radang kulit yang terdapat di daerah tertutup popok. Biasanya di sekitar alat kelamin, bokong, lipat paha, dan perut bagian bawah. Penyakit ini sering menyerang bayi dan balita yang menggunakan popok. “Paling banyak, anak usia 9 sampai 12 bulan. Gejalanya kemerahan pada kulit. Bila sudah berlangsung lama, timbul bintil-bintil merah, lecet, bersisik, membasah dan bengkak, bisa ditumbuhi jamur terutama jenis candida albicans,” tutur Titi.

Eksim popok terjadi karena cara pemakaian popok yang salah. “Jadi, jangan salahkan popoknya. Yang enggak benar, cara memakainya.” Bagaimana jika si kecil telanjur kena eksim popok? “Kalau masih ringan, bersihkan dengan air hangat, ganti popok setiap buang air kecil dan besar, lalu oleskan krim khusus sebagai pelindung. Dengan pengobatan yang rutin biasanya akan hilang,” ujar Titi.

Waspadai apabila eksim popok tidak sembuh dalam tiga hari dengan gejala kulit berwarna merah dengan bintik-bintik. “Berarti sudah terinfeksi jamur. Segera bawa ke dokter. Lebih cepat, lebih baik untuk mencegah anak rewel karena kulitnya gatal dan perih.” Untuk menghindari eksim popok bisa juga dengan melatih anak buang air kecil dan besar di kamar mandi.

2. EKSIM SUSU

Eksim susu (dermatitis atopik) biasanya diturunkan. Orang awam mengira eksim ini disebabkan pipi bayi terkena cipratan ASI saat menyusu, padahal bukan. “Penyebabnya adalah faktor keturunan didukung faktor pencetus seperti makanan (susu, telur, dan daging), hirupan debu rumah dan terkena benda berbulu dan keringatnya sendiri,” ujar Titi.

Biasanya terdapat ruam di daerah pipi dengan gejala warna kulit tampak kemerahan dan gatal. Cegah si kecil menggaruk ruam tersebut karena bisa menyebabkan iritasi yang menimbulkan gelembung kecil berisi cairan jernih. “Cairan ini bila pecah akan menjadi basah, berair, dan berdarah. Setelah mengering akan menjadi kehitaman, kemudian kulit menjadi bersisik dan kering,” ungkap Titi.

Eksim karena faktor pencetus dari lingkungan bersifat alergen yang dapat menimbulkan reaksi alergi di tubuh, sehingga kulit menjadi gatal dan timbul eksim.

Faktor lain yang memudahkan terjadinya eksim adalah sifat kulit, yakni kulit kering. Pemakaian sabun yang kadar alkalinya tinggi, terlalu sering berada di ruangan ber-AC dengan suhu dibawah 18 Celsius, memakai pakaian dari wol, bisa memicu kambuhnya eksim. “Meski penyebabnya genetik (keturunan), sepanjang tak ada faktor pencetusnya, eksim ini tidak akan timbul. Jadi, kalau gejalanya masih sedikit gatal atau merah, lebih baik langsung diingat-ingat apa yang sudah dimakan dan dikenakan, lalu cepat hindari agar tidak berkepanjangan, ” ungkap Titi.

Untuk mencegah kambuhnya eksim susu, sebaiknya jaga kebersihan lingkungan di sekitar si kecil. “Usahakan kamar bayi bersih dari debu dengan mencuci gorden seminggu sekali, hindari meletakkan banyak barang di dalam kamar, hindari pakaian, mainan dan karpet tebal dan berbuluyang mudah menampung debu. Sebaiknya gunakan kasur, bantal, jok kursi dari busa, ” saran Titi.

Untuk mengobati, diberikan krim antiradang, anti alergi dan antigatal. Gunakan sesuai aturan dan petunjuk dokter. Jika tak kunjung sembuh, segera konsultasikan ke dokter, jangan lakukan tindakan sendiri dengan penggunaan krim tidak sesuai aturan atau menggunakan obat minum, misalnya. “Bisa muncul efek samping seperti kerusakan kulit. Yang utama memerhatikan kebersihan kulit bayi dan anak. Ini gampang dilakukan namun sering dilupakan orang tua,” ujar Titi.

HINDARI SABUN KERAS
Rawatlah kulit bayi dan balita secara benar. Apa saja yang harus dilakukan?

1. Bersihkan kulit dari kotoran yang menempel pada kulit seperti sisa makanan, air seni dan tinja dengan air. Mandi dua kali sehari juga akan membantu membersihkan kulit. “Jika kegiatan dan gerak anak sangat tinggi, mandi dapat dilakukan sampai 3 kali sehari.”

2. Perhatikan sabun pembersih kulit. “Hindari sabun yang terlalu keras. Pilih sabun khusus untuk bayi dan balita yang memiliki pH 4,5 ­ 5 dan agak berminyak untuk menghindari iritasi.” Gunakan pula pelembap berupa lotion dan krim khusus bayi dan balita. Fungsinya mempertahankan atau menambah kandungan air dalam kulit terutama bagian terluar kulit ari (epidermis). Berikan setelah mandi.

3. Cegah bayi terpapar sinar ultraviolet dari matahari atau gunakan pelindung sinar matahari. “Pukul 08.00 ke atas, intensitas ultraviolet sangat tinggi. Jadi, menjemur bayi sebaiknya sebelum jam itu dan sebaiknya tetap gunakan krim atau lotion pelindung sinar matahari khusus bayi dan balita,” ungkap Titi.

Yang tak kalah penting, sebelum membeli produk perawatan kulit untuk bayi dan balita, teliti informasi produk. “Teliti isi, tujuan,cara pemakaian, tanggal produksi, kedaluwarsa serta izin dari Badan POM agar terhindar dari faktor pemicu atau pencetus timbulnya penyakit, ” pesan Titi.

MENCEGAH EKSIM POPOK
* Popok dari kain sebaiknya langsung diganti jika basah, sedangkan popok sekali pakai sebaiknya segera diganti jika air seni atau tinja yang diserap sudah melebihi daya tampung.

* Untuk pencegahan, jagalah kebersihan daerah kulit yang ditutupi popok. Setelah buang air kecil dan besar, bersihkan kulit secara lembut dengan air hangat, lalu bilas bersih-bersih.

* Gunakan sabun khusus setelah buang air besar, lalu keringkan dengan handuk atau kain lembut, dan tunggu 2 menit sebelum dipakaikan popok baru. “Ini akan mencegah kulit tidak lembap,” jelas Titi.

* Setelah itu, bisa dibubuhkan bedak yang berfungsi sebagai pelicin dan penyerap kelembapan supaya mengurangi gesekan antara kulit dengan popoknya. “Tapi harus digunakan dalam keadaan kulit kering dan bersih.

Jangan saat lembap karena malah bisa memicu timbulnya jamur dan kuman. Juga jangan berlebihan karena bisa terhisap dan mengganggu pernapasan,” ungkap Titi.

BIANG KERINGAT PUN BIKIN MASALAH
Biang keringat muncul akibat saluran keringat tersumbat sel yang sudah berganti. Akibatnya, rasa gatal terpicu. Berikut agar si kecil terhindar dari biang keringat:

* Bayi atau anak dianjurkan mandi secara teratur, sedikitnya dua kali sehari menggunakan air dingin dan sabun. “Mandi yang teratur merupakan salah satu cara agar keringat dapat keluar dengan baik dan lancar,” ujar Titi.

* Jika bayi dan balita Anda banyak dan sering mengeluarkan keringat, basuh dengan handuk atau kain lembut. Setelah itu, taburi dengan bedak, tapi jangan pada saat kulit dalam kondisi lembap.

* Gunakan pakaian yang menyerap keringat, misalnya yang terbuat dari katun. “Kalau pakaiannya sudah basah oleh keringat, cepat ganti dengan yang kering. Sebaiknya bawa beberapa potong baju jika sedang bepegian untuk mempermudah mengganti pakaian,” saran Titi.