menjadi orang tua


Peran orang tua : proses peralihan berkelanjutan

* Peralihan menjadi orang tua merupakan suatu proses dan bukan suatu keadaan statis
* Proses ini berawal dari kehamilan, dengan bunga ucapan selamat, merupakan saat kewajiban menjadi orang tua dimulaiKonsep-konsep lain mengenai peran orang tua

* Peran orang tua yang membawa perubahan negatif pada kualitas hidup
* Peran orang tua tertuju pada bagaimana perubahan kualitas kehidupan pribadi maupun perkawinan setelah kelahiran bayi. Selain itu, cenderung diwarnai oleh batasan kualitas hidup yang diukur dari sudut pandang yang individualistik
* Dalam ukuran individualistik ini, fokus kualitas hidup tertuju pada tingkat keberhasilan seseorang mengatasi berbagai hambatan, termasuk gangguan alamiah maupun tatanan kerja untuk memenuhi keinginan/tujuan pribadinya
* Ukuran individualistik tentang asuhan, misal tertuju pada sejauh mana perasaan terganggunya seorang wanita yang harus keluar masuk RS akibat penyakit diabetes selama kehamilannya. Bila perasaan terganggunya rendah, maka asuhan kesehatannya baik

Peran orang tua sebagai krisis dibandingkan sebagai masa peralihan

* Seberapa besarkah menjadi orang tua menimbulkan “krisis”?
* Perubahan ini dianggap suatu krisis apabila sangat hebat, sangat mengganggu dan merupakan perubahan yang negatif
* Apakah ada kebiasaan yang terganggu seperti perubahan kehidupan seksual, pola tidur dan hal-hal yang serupa

Kepentingan tentang kehadiran dari BBL adalah temperamen, cara pasangan mengertikan stress dan bantuan serta bagaimana orang tua berkomunikasi dan mengubah peran sosial mereka merupakan hal yang harus diperhitungkan.

Peralihan menjadi orang tua

Fase penantian (anticipatory)

* Fase penantian berkaitan dampaknya pada kehamilan dan bukan pada peran orang tua
* Kehamilan merupakan tahap penantian menjadi orang tua dan calon orang tua perlu menyelesaikan beberapa tugas mereka
* Pembuatan keputusan dan harapan-harapan mereka mempengaruhi perannya sebagai orang tua nantinya, seperti pembagian tugas dalam keluarga. Hal ini menjadi sangat penting bila bayi telah lahir
* Mengamati bagaimana aktivitas sehari-hari yang dijalankan keluarga seringkali menggambarkan seberapa berhasilnya seseorang menerima perubahan peran mereka
* Hal ini juga memberi gambaran peran yang akan dimainkan anak dalam keluarga kelak. Bidan harus memperhatikan apakah ada negosiasi/fleksibilitas antar pasangan saat pembagian tugas
* Bagaimana keluarga menggunakan kehamilan untuk membagi tugas dalam keluarga akan sangat berdampak pada peralihan peran
* Bila salah satu anggota secara sepihak meminta pasangannya untuk bertanggung jawab/bila ada pandangan kaku mengenai kerja pria dan kerja wanita, mungkin akan timbul perlawanan halus/tugas berlebihan dengan meningkatnya tanggung jawab akibat adanya bayi yang baru lahir
* Pasangan dalam fase penantian, akan mengalami perasaan yang hebat, tantangan dan tanggung jawab. Bila digunakan secara baik, kesempatan ini akan digunakan untuk menguji kemampuan dalam mempersiapkan untuk menerima dan mengintegrasikan anggota keluarga yang baru kedalam sistem.

Fase bulan madu (honeymoon)

* Fase bulan madu akan sangat berdampak apad masa puerperium(nifas), hal ini perlu mendapat perhatian pada asuhan kebidanan yang diberikan oleh bidan
* Fase bulan madu ini bersifat psikis dan bukan merupakan saat damai dan gembira
* Hubungan personal pasangan juga tidak kalah penting, tetapi sebagian besar tenaga difokuskan pada pengembangan hubungan baru dengan bayi

Ketertarikan dan keterkaitan (bonding and attachment)

* Kemampuan BBL untuk mengendalikan tingkah laku merupakan rangsang kuat untuk orang tua yang siap untuk melanjutkan hubungan dari ketertarikan awal (initial bonding) menuju keterkaitan (attachment)
* Ketertarikan merupakan awal tertariknya dan keinginan untuk lebih mengenal
* Sedangkan keterkaitan merupakan suatu kerja keras dan lama untuk mencintai seseorang
* Oleh karena itu, ketertarikan dapat dianggap langkah awal dalam proses saling tertarik dan respon antara orang tua dan BBL berkembang dan menjadi kasih sayang dan afiliasi

Pelayanan asuhan kesehatan

* Pelayanan asuhan harus hati-hati bila menasihati pasien, sehingga tidak menimbulkan rasa bersalah pada orang tua yang tidak dapat atau tidak turut berpartisipasi dalam proses persalinan dan yang tidak langsung tertarik pada bayi barunya.
* Proses keterkaitan bervariasi dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain

SIBLING (KAKAK-KAKAK)

* Respon kakak-kakak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan
* Biasanya balita kurang sadar akan adanya kelahiran
* Mereka mungkin melihat “pendatang baru” itu sebagai saingan atau mereka takut akan kehilangan kasih sayang orang tua
* Tingkah laku negatif mungkin muncul dan merupakan petunjuk derajat stress pada kakak-kakak ini
* Tingkah laku negatif ini mungkin berupa masalah tidur, peningkatan upaya menarik perhatian, kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti ngompol, atau menghisap jempol.
* Beberapa anak mungkin memperlihatkan tingkah laku bermusuhan terhadap sang ibu, terutama bial ibu menggendong bayi atau memeberi makan
* Tingkah laku ini merupakan manifestasi rasa iri dan frustasi yang dirasakan kakak-kakak ini bila mereka melihat perhatian sang ibu diberikan kepada orang lain.
* Orang tua harus mencari kesempatan-kesempatan untuk menegaskan kembali kasih sayang mereka untuk kakak yang sedang rapuh ini
* Anak prasekolah mungkin akan lebih banyak melihat daripada menyentuh
* Sebagian besar akan menghabiskan waktu dekat dengan bayi dan berbicara kepada ibu tentang bayi ini
* Lingkungan yang relaks dan biasa tanpa dibatasi waktu yang akan mempermudah interaksi anak-anak yang muda dengan bayi
* Sang kakak harus diberikan perhatian khusus oleh orang tua, pengunjung dan bidan yang sepadan dengan yang diberikan kepada bayi baru

Adaptasi kakak

Balita

* Bagaimana cara kakak menyesuaikan diri dengan kelahiran bayi akan sangat bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan anak-anak
* Anak-anak yang sangat muda, 2 tahun atau kurang, tidak menyadari perubahan pada ibunya yang sedang hamil dan tidak mengerti bahwa akan lahir seorang adik laki-laki atau perempuan karena balita belum mempunyai persepsi waktu
* Banyak orang tua yang menangguhkan pemberitahuan sampai dekat dengan saat kelahiran
* Meskipun sulit untuk mempersiapkan anak yang masih sangat muda untuk menyongsong kelahiran bayi, seorang bidan dapat memberikan saran yang membantu
o Pertama, segala perubahan dalam susunan tidur bersama harus dibuat beberapa minggu sebelum kelahiran supaya balita tersebut tidak merasa disingkirkan oleh bayi yang baru
o Kedua, orang tua dapat mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan mereka untuk menanyakan balita tersebut apakah dia iri dan menyesali adanya adik, apabila si balita harus dapat berbagi waktu dan perhatian dengan si bayi
o Hanya apabila si balita merasa aman terhadap kasih sayang orang tuanya, baru dapat diharapkan seorang anak berumur 2 tahun dapat menyongsong kedatangan “orang lain”
o Sangat penting diyakinkan secara berulang kali yang utama bagi orang tua adalah kasih sayang mereka kepada si balita
o Dapat diajarkan kepada orang tua untuk menerima perasaan kuat/hebat yang diperlihatkan balita, seperti marah, iri atau kesal, tanpa menghakimi dan selalu memperkuat kasih sayang terhadap anak tersebut

Anak yang lebih tua

* Anak yang lebih tua, dari usia 3-12 tahun, lebih sadar akan perubahan-perubahan tubuh ibunya dan mungkin menyadari akan terjadinya kelahiran bayi
* Anak-anak ini mungkin akan tertarik untuk memperhatikan perut ibu, dan merasakan pergerakan janin. Mereka akan senang mendengarkan denyut jantung janin, dan mungkin mempunyai beberapa pertanyaan tentang cara bayi dikeluarkan dari perut
* Mereka umumnya mengerti si bayi akan merupakan adik laki-laki atau perempuan dan sangat menunggu kehadiran bayi
* Namun mereka mungkin mengharapkan bayi yang lahir langsung sudah dapat dibuat bermain dan sering kaget melihat betapa kecil dan tak berdayanya si bayi
* Anak-anak yang telah sekolah akan mendapat keuntungan bila diikutsertakan dalam persiapan menyongsong bayi
* Mereka sering senang mengukur besar dan perkembangan janin dan mencatat di kalender
* Mereka tertarik untuk mempersiapkan tempat untuk bayi tidur dan mengumpulkan barang-barang keperluan bayi
* Anak-anak ini harus diajak untuk merasakan pergerakan janin, dan banyak diantara mereka yang mendekat ke perut ibunya dan berbicara dengan si janin
* Anak-anak yang lebih tua juga mendapat rasa tenteram dan menikmati waktu bersama orang tua
* Anak-anak yang berumur 3 tahun pun akan mendapat keuntungan dari kelas-kelas (kelas khusus persiapan menjadi orang tua/parent education program) untuk persiapan sebagai kakak
* Mereka diajak untuk membawa boneka sehingga mereka dapat belajar cara mengasuh bayi
* Kelas-kelas ini juga merupakan kesempatan untuk dapat berdiskusi mengenai perubahan-perubahan dalam keluarga akibat adanya bayi yang baru
* Dalam beberapa keadaan, anak berumur 3 tahun sudah diperbolehkan hadir saat persalinan
* Bila anak yang muda ini akan hadir untuk peristiwa persalinan, mereka harus mengikuti kelas yang akan mempersiapkan mereka untuk peristiwa tersebut
* Seseorang yang sudah dikenal harus hadir untuk dapat menerangkan apa yang sedang terjadi dan menenangkan mereka atau membawa mereka keluar ruangan kalau mereka takut

Remaja

* Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka
* Ada remaja yang malu karena kehamilan berarti ada hubungan seksual antara orang tua mereka
* Mereka mungkin jijik melihat perubahan fisik ibu
* Banyak remaja yang sangat larut dalam perkembangan mereka sendiri yang meliputi :
o Pengenduran ikatan kepada orang tua dan menghadapi perkembangan seksualitas mereka sendiri
o Mereka mungkin tidak peduli terhadap kehamilan kecuali bila mengganggu kegiatan mereka sendiri, namun ada remaja yang justru menjadi sangat terlibat dan ingin membantu dengan persiapan untuk bayi.

what can i do to help you
link download kebidanan

* Home
* campur2
o Masa kehamilan
o Seks Selama Hamil
* profil
* video
* download

Archive for category Psikologi
RASA AMAN DAN NYAMAN SELAMA KEHAMILAN DAN PASCA BERSALIN

Posted by bidanpurnama in Psikologi on February 3, 2010 | Edit

* Tingkat kemudahan dan kepuasan pada seseorang yang berubah menjadi orang tua terutama bergantung kepada keberhasilan mereka (suami isteri) dalam mengartikan dan menerima hubungan antar anggota keluarga
* Apabila pasangan suami isteri tersebut telah mampu memandang satu sama lain sebagaimana adanya (dan bukan seperti apa yang diinginkan) dan dapat menerima perbedaan dalam nilai dan tingkah laku, dapat bekerja sama untuk membangun dasar kekuatan yang fleksibel untuk keduanya, dapat mengembangkan standar yang memungkinkan keduanya saling mengerti maka peralihan dari kecemasan menuju kenyamanan selama persalinan akan lebih lancar
* Harapan rasa aman dan nyaman ini merupakan manifestasi keinginan berbagi rasa yang saat-saat itu memang cenderung meningkat
* Harapan itu akan lebih mudah terwujud apabila ada kesesuaian antara suami isteri
* Menifestasi kesesuaian terlihat dari perilaku suami yang membantu sambil menahan diri untuk tidak mengeluh
* Optimalisasi tercapainya harapan rasa aman dan nyaman selama kehamilan dan pasca bersalin sangatlah individual tergantung dari sudut pandang tiap-tipa orang.

Artikel terkait:
1.
PSIKOLOGIS IBU HAMIL
2. Dukungan suami
3. Dukungan keluarga terhadap ibu hamil
4. RASA AMAN DAN NYAMAN SELAMA KEHAMILAN DAN PASCA BERSALIN